GOWA, TIME BERITA — Menikmati sejuknya rumpun Bambu ditemani secangkir kopi sambil ngobrol santai dengan teman atau sahabat dapat memberi inspirasi untuk menghasilkan karya seni yang imajinatif.
Hal inilah yang coba dihadirkan oleh sekelompok perupa melalui kegiatan ‘Melukis Bareng Aganta’ yang dihelat minggu 09 Februari di Bambu Kopi, Kelurahan Parang Benoa, Kabupaten Gowa.
Meski cuaca sedikit diguyur hujan tak menyurutkan semangat sekira 10 orang perupa yang berasal dari berbagai latar belakang untuk menorehkan kreativitasnya diatas kanvas.
Cat ditumpahkan dan kuas pun disapukan, beberapa menit sudah terlihat goresan dasar karya dengan ciri dan karakter masing masing pelukisnya.
Obrolan santai pun mengalir sesekali diselingi menyeruput kopi khas sajian Bambu Kopi yang ditemani menu andalangnya ‘Sanggara Peppe’ (Pisang Goreng Muda).
Koordinator Kegiatan, Rahman Nurzaman yang juga alumni seni rupa UNM mengatakan, kegiatan ini sebagai langkah awal untuk mengasah produktifitas sekaligus menjalin silaturahim dengan mereka yang menyukai dunia lukis.
“Ini baru satu langkah kaki kanan dari jutaan langkah kita nanti. Kegiatan ini bersifat terbuka dan siapapun bisa ikut, Cukup konfirmasi melalui sosial media. Kita melukis bersama, siapapun yang hadir itulah Aganta,”kata Rahman.
Menurutnya, Kata ‘Aganta’ diambil dari bahasa Makassar yang artinya teman kita. “Siapum yang
datang untuk berkarya disini itulah ‘Aganta’,”ujarnya.
Salah satu Pegiat Anganta Beny, menambahkan, kegiatan ini akan dilaksanakan secara berkala.
“Insya Allah sesi berikutnya akan dilaksanakan minggu depan, melanjutkan kegiatan hari ini,” kuncinya.
Untuk berkunjung ke Bambu Kopi, pengunjung dapat menempuhnya dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Warkop Bambu Kopi ini menawarkan konsep alam pedesaan yang ramah lingkungan, untuk memanjakan pengunjung dengan suasana sejuk alami jauh dari suara bising perkotaan.
Bambu Kopi berjarak sekira 13 kilometer dari Kota Makassar dan dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun empat sekira 30 menit perjalanan.
Di warkop ini tak ada sampah plastik yang terlihat sebagai sampah. Pengunjung yang datang akan ketagihan suasana alam dan sejuknya tempat ini.
Setiap kedai terbuat dari anyaman Bambu dan tikar daun lontara, atapnya terbuat dari konstruksi bambu dan daun rumbia.
Menu yang disajikan pun ala pedesaan seperti, Kopi dan Sanggara Peppe yang disajikan dengan cobek sebagai wadah cabenya.
Penulis : Aksay
Editor : Erick Sudarmono