* Diposting oleh Bastian Jabir Pattara di Akun Facebooknya
Gadis kecil ini, sarjana ekonomi disalah satu kampus swasta di Kota Malang Jawa Timur. Bapaknya Jawa dan Ibunya suku Duri Enrekang Sulsel, merupakan adik sepupu sekali istri saya.
Kami memanggilnya Tuti (Firda Widiya Astuti), umurnya 27 tahun, sejak selesai kuliah, tinggal bersama kami di Kota Makassar sambil mencari pekerjaan dan membantu adiknya yang akan masuk di perguruan tinggi.
Sejak SMA hingga kuliah, Tuti banting tulang nyambi bekerja demi membiayai pendidikannya. Semangatnya membara untuk bisa berhasil agar mampu mengangkat harkat dan martabat keluarganya.
Saat mendapat pekerjaan disalah satu perusahaan finance di Makassar, ia berusaha membagi penghasilannya untuk Ibunya, biaya kuliah adiknya, dan biaya pendidikan adiknya yang lain yang tinggal di kampung.
Tuti punya banyak mimpi yang harus diwujudkan, dan itu bukan hanya sebatas slogan, ia berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Salah satunya yang mulai terwujud adalah adiknya yang kuliah sudah akan diwisuda berkat jeripayah Tuti membantu biayanya.
Terlihat postingan terakhir Tuti diberanda FBnya 10 April 2022 lalu, dengan bahagia mengabarkan prestasi adiknya dalam menyelesaikan perkuliahannya. Tuti mengatakan “Alhamdulillah, 1 step lagi Finish ya dek🥰, Walaupun beberapa bulan terakhir, hampir tiap hari cuma makan nasi + mie instant + telur tapi tetap semangat sampai titik akhir👏👏 Mondar mandir Makassar – Enrekang cuma modal bensin dan makan 50rb atau 100rb. Itulah perjuangan!”
Lanjut Tuti memotivasi adiknya “Tidak perlu kita menjadi apa2, yg penting ilmu dan pengalamannya bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan oranglain👍Tetap legowo / sabar, Tetap Rendah Hati, Tetap menjaga Etika, Tetap semangat.
Tuti memang wonder women, semangatnya besar melampui fisiknya yang mungil dengan tinggi hanya sekitar 140 cm, dia pernah menceritakan, bagaimana dia harus membagi waktu kuliah disiang hari, dan bekerja sebagai Wedding Organizer dimalam hari semasa kuliah. Selain itu pengalamannya mengelola keuangannya agar cukup untuk uang kos, makan dan biaya kuliahnya, tidak jarang dia harus puasa demi mengehemat keuangannya.
Keluarganya yang mulai menikmati hasil jeripayah Tuti harus bersabar, karena betapa pun mereka mencintai dan membutuhkan keberadaan Tuti, ternyata pemilik Tuti yang sesungguhnya lebih mencintainya dan harus kembali kepangkuan-Nya, setelah sehari berjuang melawan penyakit panasnya karena Demam Berdarah di RSUD Massenrempulu Enrekang.
Innalillahi Wainnailaihi rajiun, selamat jalan adik yang baik, terima kasih telah memotivasi dan memberikan kami teladan serta inspirasi yang baik untuk hidup yang lebih baik.
Sesungguhnya, kesungguhan perjuanganmu didunia fana ini, mungkin sudah dianggap cukup oleh sang Khalik dalam meraih segala cita-citamu, sebagai bekal hidupmu di alam berikutnya, sehingga umurmu yang masih mudah, sudah dianggap layak untuk kembali kepangkuan-Nya.
Semoga Allah SWT., membukakan rahmat-Nya yang luas dikehidupan berikutmu. Alfatihah… Aamiin YRA…