ENREKANG, timeberita.com – Masih ingat pernyataan tegas La Tinro La Tunrung saat menjabat Bupati Enrekang dua periode lalu? Di hadapan publik ia pernah berkata, “Saya lebih baik ditembak pistol langsung mati daripada saya di tembak pena, maka tujuh turunan saya merasakan sakit di hati.”
Maksudnya filosofi ini, Kalau ditembak pistol langsung mati tidak merasakan penderitaan lama tapi jika ditembak pena media maka berlahan-lahan sakit hati sampai menderita lama dan tersiksa, biar bukan kita di cerita orang lain pasti hati kita merasa, apalagi jika daun jatuh disekitar kita maka kaget dan hati merasakan sakit bahwa kita lagi di bahas padahal tidak demikian dan itu menjadi derita hati sehingga berlahan-lahan akhirnya mati menderita atau tersiksa.
Filosofi tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran media dalam mengkritik pemerintah demi membangun Kabupaten Enrekang. Tanpa media, kata La Tinro, ibarat sayur tanpa garam. Kadang terasa tak enak, tapi begitu ditinggalkan justru rindu. Itulah yang dirasakannya selama memimpin Enrekang.
Kini, putra La Tinro, Andi Tenri Liwang La Tinro, duduk sebagai Wakil Bupati Enrekang, berpasangan dengan Bupati Muhammad Yusuf Ritangnga. Keduanya berkomitmen membangun Enrekang lima tahun ke depan, melayani masyarakat, dan memajukan pembangunan serta perekonomian Massenrempulu.
Saat berbincang santai dengan pengurus PWI Pusat dan Sulsel dalam jamuan makan siang di Enrekang, Andi Tenri Liwang yang akrab disapa Puang Iwan menegaskan bahwa pemerintah tidak anti kritik.
“Saya senang dikritik jika itu benar dan sesuai peristiwa di lapangan, bukan hoaks atau fitnah. Kritik yang membangun dapat mengontrol kita untuk terus berbuat positif dalam membangun Enrekang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kontrol media secara profesional akan membuat pemerintah bekerja sesuai tugas dan fungsinya. “Yang mengawasi kita adalah media. Jika kita salah langkah, media harus meluruskan, bukan membengkokkan yang sudah lurus,” kata Iwan dengan nada filosofis.
Menurutnya, media selama ini telah bersinergi membangun Enrekang. Jika pembangunan maju, media pun ikut maju, dan masyarakat Enrekang bisa menikmati hasilnya untuk peningkatan kesejahteraan.
Sementara itu, Plt PWI Sulsel sekaligus Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Zulkifli Gani Otto, S.H., mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Enrekang yang dinilai peduli terhadap media. Ia menegaskan, pemerintah siap dikritik, tapi bukan berarti berita yang merusak tatanan pemerintahan.
“Media sebaiknya tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan solusi dalam pemberitaan. Itulah yang diharapkan agar pemerintah memahami tupoksinya, begitu pula media,” jelas Zulkifli.
Ia mengingatkan agar media tidak membuat berita provokatif atau tidak memenuhi unsur 5W+1H. “Jika media seperti itu, pemerintah tidak bisa bekerja maksimal. Tapi jika kritik disertai solusi, semua pihak akan diuntungkan,” tegasnya.
Zulkifli juga menegaskan bahwa jika ada orang mengaku wartawan tetapi menemui bupati atau wakil bupati tanpa mengantongi tiga kartu—yakni kartu identitas pers dari perusahaan, kartu Uji Kompetensi Wartawan (UKW), dan kartu organisasi wartawan seperti PWI atau lembaga resmi lainnya—maka harus ditolak.
“Jika masih berulah, laporkan ke Dewan Pers, organisasi wartawan, atau polisi jika terjadi pelanggaran. Jangan ragu bertindak, karena itu merusak profesi jurnalistik,” pungkasnya.
Ia mengingatkan bahwa tugas wartawan adalah mencari, mengolah, dan mempublikasikan berita, bukan mengancam atau meminta uang kepada pejabat. (**)