JAKARTA, timeberita.com – Sebuah langkah berani kembali diambil oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI. Tidak hanya berbicara tentang konektivitas laut, kali ini BUMN pelat merah itu menyelami isu yang lebih mendasar: kenyamanan dan keberanian bersuara di tempat kerja.
Pada Kamis (11/6), Kantor Pusat PELNI, Jakarta, berubah menjadi ruang refleksi kolektif lewat Talkshow Respectful Workplace Policy (RWP) 2026. Mengusung tema lembut namun tegas “Ruang Aman, Kerja Nyaman” dan sub-topik “Speak Without Fear”, acara hybrid ini diikuti oleh jajaran direksi, anak perusahaan, serta seluruh pegawai dari pusat hingga cabang di seluruh Indonesia.

Bukan Sekadar Acara, Tapi Komitmen
“Kami ingin setiap insan PELNI merasa dihargai, tanpa memandang jabatan, gender, atau latar belakang,” tegas Ditto Pappilanda, Sekretaris Perusahaan PELNI.
Menurutnya, rasa aman bukan hanya tentang fasilitas fisik. Lebih dari itu, ruang kerja yang sehat harus memungkinkan seseorang untuk menyampaikan pendapat, mengakui kesalahan, bahkan melaporkan ketidaknyamanan tanpa rasa takut akan pembalasan.
“Keberanian bersuara harus berjalan beriringan dengan komitmen organisasi untuk mendengarkan dengan empati, menjaga kerahasiaan, dan bertindak adil,” tambah Ditto.
PELNI dengan tegas menyatakan nol toleransi terhadap perundungan, pelecehan, diskriminasi, dan kekerasan—baik fisik maupun verbal.
Dua Narasumber dengan Perspektif Berbeda, Satu Tujuan
Yang membuat acara ini istimewa adalah hadirnya dua figur dari dunia yang berbeda, namun sejalan visinya.
Dr. Fitriana, S.H., M.H. , akademisi Fakultas Hukum Universitas Indonesia, mengingatkan bahwa landasan utama ruang kerja yang aman adalah hukum.
“UUD 1945 menjamin hak atas pekerjaan yang layak. Layak di sini harus dimaknai sebagai aman secara fisik dan psikis. Bukan sekadar gaji, tapi juga martabat,” ujarnya.
Sementara itu, Hannah Al Rashid—aktris yang dikenal vokal dalam isu anti kekerasan terhadap perempuan—membawa perspektif personal dan manusiawi.
“Kita semua bisa mulai dari hal sederhana: menjadi pendengar yang baik. Terkadang, seseorang hanya butuh didengar tanpa dihakimi. Itulah bentuk dukungan paling dasar yang bisa kita berikan pada rekan kerja,” tutur Hannah dengan hangat.
Kehadiran Hannah sekaligus menjadi simbol bahwa membangun ruang aman adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya tugas HR atau legal semata.
Menanamkan Nilai AKHLAK dalam Setiap Gelombang Perubahan
Melalui talkshow ini, PELNI berharap setiap pegawai menjelma menjadi agen perubahan yang mengamalkan nilai-nilai AKHLAK: Amanah, Harmonis, Kolaboratif. Dengan lingkungan yang saling menghormati dan bebas dari kekerasan, produktivitas diyakini akan mengikuti dengan sendirinya.
Sebagai penutup, Slamet Hari Santoso, Kepala Cabang PELNI Parepare, menyampaikan optimisme serupa. Ia juga mengingatkan bahwa di tengah upaya transformasi budaya, PELNI terus menggerakkan layanan logistik nasional.
“Kami saat ini mengoperasikan 8 trayek tol laut dan satu trayek khusus kapal ternak. Ini semua untuk melayani Indonesia dengan lebih baik,” pungkasnya. (**)