PAREPARE, timeberita.com – Dua organisasi masyarakat (ormas) yaitu Forum Peduli Ummat (FPU) dan Front Persaudaraan Islam (FPI) menilai kasus tragedi KM 50 menewaskan 6 suhada FPI harus diusut kembali
Pasalnya kematian ke enam suhada FPI itu diduga direkayasa dengan dalil tembak-menembak seperti kasus Brigadir Yosua atau Brigadir J yang melibatkan Irjen Ferdy Sambo.
Hal ini dikatakan ketua FPU kota Parepare, Rahman Saleh didampingi ketua FPI Parepare, Fahri saat jumpa pers, di warkop Delima, Parepare, Jumat (12/8/22).
Rahman Saleh mengatakan mencuatnya kasus pembunuhan berencana yang diduga dilakukan oleh tersangka Ferdy Sambo ini menjadi sorotan publik.
Bahkan terbunuhnya enam anggota suhada FPI diduga rekayasa tembak menembak yang tidak sesuai faktanya.
“Bisa jadi doa para keluarga suhada yang dizalimi sehingga yang membunuh keenam suhada itu diperlihatkan seperti kasus dialami oleh Brigadir J,”jelasnya.
Hal senada diungkapkan ketua FPI Parepare, Fahri, bahwa membunuh orang yang tak bersalah maka akan mendapat ganjarannya baik dunia maupun diakhirat.
“Kasus pembunuhan Brigadir J mirip kasus dialami 6 suhada dari FPI dan ini perlu diusut kembali,”terangnya.
Kemiripan itu seperti CCTV tiba-tiba mati sama seperti kasus Brigadir J bahkan tembak-menembak terjadi dirumah tersangka Ferdy Sambo padahal faktanya tidak demikian.
Rekayasa inilah mirip kasus KM50 menewaskan 6 suhada dari FPI anggota Habib Rizieq Shihab (HBS).
“Semoga kasus ini menjadi pelajaran bagi aparat penegak hukum khusus Polri agar dalam penegakan hukum harus mengedepankan asas praduga tak bersalah serta profesionalisme kerja, sehingga pencari keadilan tidak dirugikan,”katanya. (**)