Oleh : Ridwan Demmatadju
MAKASSAR, TIME BERITA — Selalu ada jalannya untuk niat yang baik dan cepat atau lambat titik puncak yang akan jadi tujuan pasti akan sampai, Sepanjang hayat masih dikandung badan.
Maka bergeraklah dengan tenang dan berharaplah hanya pada pemilik alam semesta yang maha mengatur urusan dunia.
Sebagai manusia kita sesungguhnya tak punya daya apa pun jika Tuhan tak berkehendak atas segala impian kita di dunia ini.
Sehingga kewajiban mensyukuri nikmat-Nya menjadi penting bagi kita yang telah dimudahkan dan mendapat hidayahnya atas segala yang kita dapatkan hari ini dan yang akan datang.
Berbaik sangkalah atas jalan kehidupan kita saat ini, meski bagi orang lain kita dinilai tak sebaik darinya.Karena selalu ada hikmah dibalik semua itu.
Ini sedikit catatan yang terinspirasi dari Kakanda Karta Jayadi, yang telah meraih gelar sebagai guru besar, di Universitas Negeri Makassar.
Saya cukup mengenalnya sebagai dosen di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, dimasa IKIP Ujungpandang, dia punya yang visi, cara pandangnya jauh ke depan terkait bidang seni rupa dan kebudayaan yang ditekuni.
Acapkali, saat dia minum kopi pada jam istirahat mengajar, saya selalu menemaninya, sembari menyimak lontaran ide dan gagasannya dalam diskusi ringan tapi berat hehehe.
Bagi yang tak cukup referensi gerakan seni rupa avant garde, yang berkembang dalam dunia fashion serta bergerak ke desain grafis.
Sederetan nama kritikus seni rupa, Agus Dermawan T, Jim Supangkat, dan seorang Rita Widagdo yang lahir di Rottweil, Jerman.
Ia belajar seni di Meisterchueler, Staatliche Akademie der Bildenden Kuente, Stuttgard, Jerman.
Selain jadi perupa, ia aktif menjadi staf pengajar di Jurusan Sani Patung Institut Teknologi Bandung sejak 1966-2003.
Selalu muncul dalam lintasan diskusi di kantin ceria, Kampus Parang Tambung, tepatnya samping studio patung.
Cukup banyak perbincangan yang saya catat, dan jadi pelengkap tulisan artikel seni rupa di Harian Pedoman Rakyat dan Harian Fajar, setiap minggunya terbit di rubrik seni budaya pada Tahun 1995-1997.
Sosok Karta Jayadi, di kalangan mahasiswa seni rupa, selalu menginspirasi, dan low profile, saya merasa tak berjarak sejak mengenalnya sebagai dosen di jurusan seni rupa.
Tak heran, jika hari ini perjalanan karirnya sebagai akademisi terus melejit seiring dengan tugas yang diamanahkan sebagai orang kedua di Universitas Negeri Makassar.
Setelah saya menyelesaikan kuliah di dua jurusan di FPBS, Pendidikan Seni Rupa dan Sastra Indonesia, saya buru-buru pulang ke Pomalaa lalu terjun ke dunia pers, sebagai wartawan Harian Kendari Pos, sejak itu saya tak lagi mengikuti secara intens dinamika kampus tersebut.
Kecuali ada lagi undangan lewat group whatsapp yang dikirim adik-adik panitia Reuni Akbar Alumni IKIP/UNM, dan saya tidak hadiri acara itu berkali-kali.
Meski selalu ada kerinduan berjumpa dengan mahasiswa seangkatanku, tapi selalu terhalang banyak dengan rutinitas sebagai abdi negara di SMA Negeri 1 Latambaga,Kolaka,Sulawesi Tenggara.
Waktu terus berputar dan dipengujung Tahun 2019, saya akhirnya dipertemukan dengan sosok yang selalu menginspirasi sebagai manusia pebelajar, kakanda Kartajayadi di sebuah moment yang tak terbayangkan di sebuah hotel di Jakarta.
Tentu ada kebanggaan tersendiri yang tak terluapkan saat bertemu dan kami berdua berswafoto untuk jadi penanda kebaikan di setiap peristiwa.
Dan pagi tadi saya melihat di media online, memberitakan jika Kakanda Kartajayadi telah bergelar profesor.
Maka sempurnalah titik puncak gelar akademik yang semua akademisi, peneliti ingin menuju kesana.
Lewat tulisan ini, sekali saya menyampaikan selamat dan sukses semoga gelar ini menjadi jalan untuk kebaikan dunia dan akhirat.(AK)