ENREKANG, TIME BERITA, — Kabupaten Enrekang adalah salah satu Kabupaten yang memiliki angka Stunting cukup tinggi di Sulawesi Selatan. Untuk menyikapi masalah tersebut Pemerintah Kabupaten Enrekang melalui Dinas Kesehatan Enrekang melakukan Rembuk Aksi Percepatan Penurunan Stunting dengan tema Bersama Cegah Stunting di Enrekang.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Enrekang, TP – PKK, para Pimpinan OPD, Para Camat, Para Kades dan Lurah, Baznas, Insan Pers, LSM,Tokoh Masyarakat,Tokoh Agama, Tokoh Pemuda Dan Tokoh Perempuan. yang berlangsung diruang Pola Kantor Bupati Enrekang, Selasa (02/07/2019).
Rembuk Aksi Percepatan Penurunan Stunting ini juga dihadiri Tim Penanganan percepatan penurunan Stunting Provinsi
Prof Veni Hadju dan Andi Irfandi,Skm. M. Kes dari Bangda Kementrian dalam Negeri sebagai Konsultan Percepatan Penurunan Stunting di Enrekang.
Sesuai data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang, kasus Stunting di Kabupaten Enrekang dari hasil Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) tahun 2013 lalu jumlah Stunting di Enrekang mencapai 53,7 persen.
Sementara dari hasil Pemantauan Status Gizi ( PSG) tingkat Nasional pada 2017 jumlahnya menurun menjadi 45,8 persen.
Dan PSG tingkat Kabupaten pada 2018 kembali turun dan menepati angka 24,5 persen.
Sementara Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) tahun yang sama masih menemukan jumlah stunting diangka 40.1 pesen.
Pada kesempatan itu, Bupati Enrekang H Muslimin Bando mengatakan ,Pemerintah Kabupaten Enrekang terus berupaya untuk menurunkan angka Stunting di Kabupaten Enrekang.
Dia berharap angka stunting di 2023 mendatang kasus stunting di Kabupaten Enrekang sudah berada diangka 19,5 persen hingga 15 persen.
Dengan demikian H Muslimin Bando meminta pihak yang tetkait untuk memperbaiki pelayanan khusunya dibidang kesehatan.
“Komitmen untuk bekerja harus ada kalau tidak ada, maka semuanya tidak bisa berjalan maksimal. Selain itu kita juga harus bekerja berdasarkan data agar dapat menekan angka stunting ini bisa maksimal,”tegasnya.
Dia menambahka, untuk keluar dari masalah ini, yang dibutuhkan adalah komitmen dan keseriusan untuk menurunkan angka stunting dan salah satunya ada di tangan para Kepala Desa.
“Tahun ini saya mau 10 desa pertama yang jadi percontohan penanganan stunting yaitu Desa Lebani, Limbuang, Pariwang, Ongko, Parinding, Sawitto Banua, Baroko, Benteng Alla ulUtara dan Tongkonan Basse. Saya juga minta 5 Kecamatan yaitu Maiwa, Baraka, Bungin, Baroko dan Masalle,”katanya.
Muslimin Bando menegaskan agar kepala desa harus proaktif dalam penanganan stunting didesanya.
Diketahui, kegiatan tersebut ditutup dengan penandatangan MoU Dinas Kesehatan dangan beberapa OPD terkait dan Penandatanganan Komitmen Percepatan Penurunan Stunting oleh seluruh undangan yang hadir.(Sri)