7,8 Juta Balita Di Indonesia Menderita Stunting

JAKARTA, TIME BERITA, — Organisasi Kesehatan Dunia yang lebih dikenal dengan sebutan World Health Organization (WHO) telah menetapkan batas toleransi stunting (bertubuh pendek) maksimal 20 persen atau
seperlima dari jumlah keseluruhan balita.hal itu disampaikan Dr Damayanti Rusli S SpAK Phd anggota UKK Nutrisi
dan Penyakit Metabolik PP IDAI pada konfrensi persnya,Selasa (23/1) lalu yang dikutif dari Republik.co.id.Senin
(01/04).

Dia menyebutkan,kasus stunting yang ada di Indonesia tercatat dari 23 juta balita sekira 7,8 juta adalah penderita
stunting atau sekitar 35,6 persen.

Sebanyak 18,5 persen kategori sangat pendek dan 17,1 persen kategori pendek. Ini juga yang mengakibatkan WHO menetapkan Indonesia sebagai Negara dengan status gizi buruk.

Stunting tertinggi terdapat di wilayah Sulawesi Tengah dengan jumlah mencapai 16,9 persen dan terendah ada di
Sumatera Utara dengan 7,2 persen.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting dari status awal 32,9 persen turun menjadi 28 persen pada tahun 2019.

Untuk pengurangan angka stunting, pemerintah juga telah menetapkan 100 kabupaten prioritas yang akan ditangani di tahap awal, dan kemudian dilanjutkan 200 kabupaten lainnya.

Menurut Damayanti, faktor utama tingginya masalah stunting di Indonesia salah satunya adalah buruknya asupan
gizi sejak janin masih dalam kandungan (masa hamil), baru lahir, sampai anak berusia dua tahun.

Kekurangan gizi pada dua tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat lagi
diperbaiki. Investasi gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan merupakan kewajiban yang tak bisa ditawar.

Permasalahan gizi tidak hanya akan mengganggu perkembangan fisik dan mengancam kesehatan anak, namun
juga dapat menyebabkan kemiskinan.

Pertumbuhan otak anak yang kurang gizi tidak akan optimal sehingga akan berpengaruh pada kecerdasannya di
masa depan.

“Dengan demikian, peluang kerja untuk mendapatkan penghasilan lebih bakal lebih kecil pada anak
stunting,”katanya.(*)

REDAKTUR

I am a web developer who is working as a freelancer. I am living in Saigon, a crowded city of Vietnam. I am promoting forĀ http://sneeit.com