Deng Raja (65), itulah nama kesehariannya, ia dikarunia enam anak dari sang istrinya tercinta, yang bekerja sebagai asongan di pelabuhan Parepare, karena kondisi pendemi sehingga tidak ada lagi kapal yang sandar di kota Parepare membuat kondisi Darwis semakin tak menentu karena tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari dirumah.
Ayah dari 6 anak ini berjuang mencari rezeki yang halal dengan cara memulung mengumpulkan barang rongsokan, gardus atau palstik yang di buang oleh warga disekitar tempat sampah atau di jalan, dialah yang memungut untuk dijual lalu uangnya dibelikan beras supaya dirumahnya bisa berasap.
Raja akui kalau dirinya terdaftar sebagai penerima raskin oleh pemerintah kota Parepare setiap bulannya dapat 10 kilogram dari kelurahan Labukkang, tetapi 10 kilogram ini habis hanya 3 atau 4 hari saja karena didalam rumahnya delapan orang.
“saya mendapat raskin 10 kilogram dari pemeirntah setempat, tapi itu cukup dimakan 3 atau 4 hari saja, karena setiap hari harus dimasak lebih dari 2 kilogram, kalau kita tidka kerja tidka bisa dapat tambahan, karena saya hanya bisa memulung tidka bisa kerja yang berat lagi karena kondisi fisik tak lagi seperti dulu,”katanya.
Raja juga curhat kepada penulis bahwa enam anaknya hanya dua yang bersekolah semuanya putus sekolah karena kondisi ekonomi yang dirasakan, kedua anaknya sekolah di SMP 1 Parepare, keduanyapun pergi sekolah biasa naik angkot atau becak dan biasa jalan kaki jika tidak ada uang jajan diberikan.
Tapi ia tetap bersyukur bahwa nikmat kesehatan masih dirasakan sehingga bisa mencari nafka untuk keluarganya,”saya sudah lama di Parepare masih tahun 1960 tinggal di sekitar mesjid Firdaus Labukkang.”jika saya dapat nasi kotak baik satu ataupun lebih maka saya harus bawah pulang untuk makan bersama dengan keluarga bahkan terutama dikasi anak terlebih dulu,”katanya.
Kondisi saat ini akibat korona sehingga lesu pendapatan, harapan Deng Raja hanya uluran tangan dari dermawan yang mempunyai rezeki lebih untuk kami seperti ini.”alhamdulillah saya dapat sembako dari laskar santri pesantren Al Mustakim berupa beras 10 kilogram, gula, minyak dan indomie bisa kami makan untuk sahur dan buka puasa,”turunya singkat. (***)