BARRU, TIME BERITA — Warga Desa Bojo, Kecamatan Mallusetasi Andi Abdul Hamid (71), bertahan hidup di kediamannya yang jauh dari kata layak huni dengan mengandalkan hasil penjualan sampah yang dikumpul setiap harinya.
Di usia renta, Hamid berjuang melanjutkan sisa hidupnya sebagai pemulung.
Keseharianya hanya mengais tempat pembuangan sampah serta menyusuri pantai, dengan harapan bisa menemukan botol plastik serta besi bekas untuk dijual.
“Saya bisaanya dapat Rp10 sampai Rp15 ribu hasil jualan barang bekas, cukup untuk makan sehari,”tuturnya, Selasa (10/03/2020).
Hamid yang tinggal di gubuk reyot jauh dari kata layak, karena sudah tak berbentuk lagi.
Rumah panggung yang menjadi warisan orang tuanya itu nyaris ambruk setelah dihantam angin kencang pada awal bulan Januari lalu.
Selain karena lapuk dimakan usia, sebagian atapnya hilang bahkan dinding rumah hanya tersisa pada bagian depan saja.
Untuk sekadar merebahkan badan untuk tidur, Hamid hanya mengandalkan sebuah kursi plastik yang juga nyaris lapuk.
“Kalau tidur ya di kursi, duduk seperti naik bus, karena tidak ada tempat tidur, kalau hujan ya sabar saja, basah belum lagi angin laut,”ucapnya, pasrah.
Hamid berharap perhatian pemerintah untuk memperbaiki rumahnya.
Masda tetangga Hamid, mengaku sering memberikan makan dan menawarkan kepada Hamid untuk tinggal dirumahnya.
“Kadang kami kasih makan, kopi dan rokok. Bahkan kami tawari nginap dirumah saja, tapi beliau (Hamid red) tidak mau,”katanya.
Secara terpisah Staf Desa Bojo, Andi Syah Indra, mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten Barru agar Hamid mendapatkan bantuan rumah layak huni.
Namun, hingga saat ini belum ada respon dari pemerintah kabupaten.
“Kami sudah daftarkan nama Hamid di Dinas Sosial dan Basnas agar mendapatkan bantuan rumah layak huni, tapi belum ada konfirmasi sampai sekarang,”singkatnya.
Sementara, Andi Mahmun Kepala Dinas Sosial Kabupaten Barru dihubungi belum memberikan keterangan. (R1)