PAREPARE, timeberita.com – Sadisnya pembina atau guru Santri pondok pesantren (Ponpes) Tahfiz Al Qur’an Khairah Unna, Mesjid Agung, Kota Parepare, Sulsel, Setrika santrinya, Rabu (24/1/2024).
Hanya karena persoalan tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) tega sekali oknum guru tersebut sehingga santri ini bernama inisial AA terluka hingga melepuh di bagian punggungnya.
Penganiayaan ini terbongkar saat orangtuanya santri bernama Salahuddin datang melihat anaknya untuk membawakan pakaian.
Itu terungkap adanya orang tua santri lain yang menyampaikan hal tersebut kepada dirinya, walaupun anaknya menyembunyikan masalah ini kepada orangtuanya agar tidak panjang masalah tersebut.
Mendengar hal itu, Salahuddin langsung melihat luka di bagian punggung anaknya dan langsung sedih dan menangis atas diperlakukan hal itu oleh oknum gurunya sendiri yang mestinya didik menjadi anak yang baik tetapi justru menyiksanya.
Atas peristiwa ini, Salahuddin mendatangi Mapolres Parepare untuk melapor perbuatan oknum gurunya terkait dugaan penganiayaan tersebut.
“Anak saya menderita luka bakar di punggung, kejadiannya pada Rabu (24/1/2024) kemarin.”
“Korban mengaku disetrika karena ada pelajaran yang tidak dikerjakan,” kata Salahuddin, ayah korban di Mapolres Parepare, Jumat (26/1/2024).
Sambil mengusap air matanya, Salahuddin terisak di depan polisi.
“Siapa yang tidak tersayat, Pak, anak saya disetrika sudah seperti penyiksaan seperti ini, saya berharap anak saya mendapat ilmu Agam di Ponpes tersebut ternyata oknum guru menyiksa anak saya,”katanya.
Anak saya menderita luka bakar di punggung, kejadiannya pada Rabu kemarin.”
Kami sudah dipanggil juga Kabag Kesra Kota Parepare, karena pondok tahfiz itu dikelola Pemkot Parepare,”jelasnya lagi.
Sementara Kapolres Parepare, Sulawesi Selatan, AKBP Arman Muis, langsung memerintahkan anggotanya untuk melakukan penyelidikan.
AKBP Arman Muis terlihat geram melihat punggung bocah berusia 13 tahun tersebut.
“Intinya kami langsung melakukan penyelidikan atas dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan oknum guru dengan cara menyetrika punggung muridnya,” kata dia.
Amran, kemudian memanggil korban dan orang tuanya di ruang kerjanya untuk diberi makanan dan sedikit pesangon.
Setelah itu, pihaknya langsung memerintahkan anggota untuk membawa korban ke rumah sakit untuk diobati.
“Kita juga membawa korban ke rumah sakit untuk diobati,” pungkasnya.
Lanjut Arman, pihaknya akan bergerak cepat untuk menyelidiki kasus tersebut dan korban saat ini mendapatkan perawatan medis.
Saat ini kita masih mendalami dan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan mencari pelaku,” katanya.
AA seorang santri berusia 13 tahun diduga disetrika gurunya karena tidak mengerjakan PR di salah satu pondok tahfiz di Kota Parepare
Pihak penyidik tetap bertindak tegas adanya perbuatan ini dan tidak dibenarkan oleh hukum siapapun itu pelakunya.
Kondisi punggung Korban menghitam menyerupai setrika karena luka bakar. (**)