PAREPARE, TIME BERITA – Perusahan Listrik Negara (PLN) Cabang Parepare akan memutus aliran listrik Pasar Lakessi, karena diduga kepala Pasar Lakessi tidak dapat melunasi dan atau membayar rekening listrik Pasar Lakessi, Kamis (20/02/2020).
General Maneger (GM) PLN Cabang Parepare Ambo Tuo mengatakan, sesuai laporan kepala ranting Mattirotasi, pihak pengelola Pasar Lakessi sudah menunggak pembayaran rekening listriknya selama 2 bulan.
“Baru – baru ini kepala ranting sudah melaporkan hal itu, karena pihak pengelola sudah menunggak pembayarannya. Untuk lebih jelasnya silahkan hubungi kepala ranting Mattirotasi,”katanya.
Sementara, Kepala ranting Mattirotasi Mutshing yang dihubungi mengatakan, listrik Pasar Lakessi sudah menunggak selama 2 bulan dan sudah dilakukan konfirmasi ke UPTD, Namun tidak ada kejelasannya.
“Iya, Pasar Lakessi nunggak Listriknya 2 bulan, Kami sudah konfirmasi keUPTD, Namun tidak ada kepastian pembayaran, jadi kami laksanakan aturan untuk memutus sementara,”singkatnya.
Terkait hal itu, Kepala Pasar Lakessi H Hamzab, mengaku jika PLN sudah menyampaikan akan adanya pemutusan aliran listrik Pasar Listrik.
“Hari ini terakhir, kalau tidak bisa di bayar tunggakan listriknya, besok akan diputus,”katanya.
Menurutnya, tunggakan listrik sudah masuk 2 bulan, tetapi sudah diserahkan dana ke PLN secara diangsur hingga terhitung sebesar Rp44 juta. Sementara dana yang harus dibayar sekira Rp67 juta.
Dia mengakui, pihak sementara melakukan penagihan ke pedagang Pasar Lakessi untuk mencukupi dana pembayaran listrik.
“Sampai hari ini, saya masih melakukan penagihan ke pedagang agar bisa dibayar rekening listrik, agar tidak diputus. Tapi dengan jumlah kekeurangan yang ada itu bisa dipastikan tidak akan cukup, jadi tetap diputus, karena sebelumnya setiap bulan saya selalu talangi kekurangan pembayaran listrik Pasar Lakessi,”jelas H Hamzah.
Kekurangan pembayaran listrik ini, dikarenakan sebagian besar pedagang yang malas untuk membayar atau tidak berada ditempat saat dilakukan penagihan.
“Mereka tidak mau membayar, dengan alasan tidak ada pembeli,”katanya.
Setiap bulan pihaknya biasanya membayar rekening listrik sekira Rp35 hingga Rp37 juta setiap bulannya.
“Untuk 2 bulan pembayaran ini, kami harus bayar sekira Rp67 juta, sementara dana yang terkumpul hanya sekira Rp44 juta (belum masuk pungutan hari ini),”jelasnya.
Dia menambahkan, dirinya sudah menangani listrik Pasar Lakessi ini sudah berlangsung selama 1 tahun.
“Beberapa bulan ini saya sudah mau lepas ini, tapi ini tugas dan amanah yang harus dijalankan. Saya disini ditugaskan sesuai SK Walikota,”katanya.
Lebih jauh, H Hamza menjelaskan, jika dirinya sudah dibebankan utang sebesar Rp12 juta sejak Januari 2019 lalu, utang ini dari pengelola lama.
“Saya selalu talangi dana pembayaran rekening listrik setiap bulannya sekira Rp5 hingga Rp6 juta. Rugi saya disini, dan tidak ada keuntungan,”keluhnya.
Dia menyebutkan, Jumlah pedagang yang aktif kurang lebih 300, tapi pedagang yang tidak menggunakan KWH pembanding sekira 100 orang. Ini salh satu penyebabnya kekurangan pembayaran listrik.
“Kami tidak bisa hitung berapa yang harus mereka bayar, selama ini kami hanya memungut sekira Rp20,Rp50 hingga Rp100 ribu,”bebernya.
Untuk amannya, pembayaran rekeing listrik di Pasar Lakessi, harusnya semua pedagang atau pengguna lost menggunakan KWH pembanding agar jelas hitungan pemakaiannya.
“Kalau ada KWH pembandingnya, jelas hitungan pemakaiannya,”tutupnya.(R1)