* Renungan Ramadhan Bagian (2)
Oleh : M.Shodiq Asli Umar
Kesibukan kita sehari-hari dalam berbagai kegiatan membuat kita terkadang lupa terhadap keluarga. Banyak berdiam diri di rumah mengingatkan kehidupan kaum sufi mengurangi hubungannya sesama manusia tetapi hubungan dengan Allah tetap. Mengasingkan diri dalam kehidupan bermasyarakat bukan berarti lari dari tanggung jawab sosiall. Meminjam istilah Ibnu Sina dalam kitabnya ” Mukaddimah” Al-insanu madaniyyatun biththabi bahwa manusia adalah mahluk sosial atau Zoon Politicon oleh Aristoteles.
Stay at home yang sangat populer di tengah pandemi Corona mengajarkan kepada kita untuk merenungi diri kita ” Who am I ” siapa diri saya ? Apakah hidupku lebih bermanfaat hanya untuk diriku, keluargaku dan untuk orang lain. Hidupku hanya untuk diriku tanpa memikirkan orang lain anani atau egois. Pepatah bijak mengajarkan kepada kita ‘ khairunnas anfauhum linnas” sebaik-baik manusia yang mempunyai manfaat untuk orang lain.
Prof.Dr.KH Ali Yafie ” Seorang anak manusia tidak membuka suatu babak dengan kelahirannya di dunia hanya untuk mengakhiri dengan kematiannya sebaliknya manusia adalah makhluk tidak musnah dalam kematian yang telah menempatkan dirinya di tepi keabadian.
Chairil Anwar : ” AKU ”
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Merenungi kata-kata bijak di atas bahwa rugilah kalau kehidupan kita hanya menanti kematian. Meskipun jasad berkalang tanah nama tak lekang ditelang masa dan selalu dikenang, “.Aku mau hidup seribu tahun lagi”.
Nabi Muhammad SAW 14 abad yang lalu telah berpulang ke Rahmatullah namun sampai hari ini masih dikenang dan insya sampai akhir zaman. Usianya hanya 63 tahun namun namun namanya selalu dikenang.
Imam Ghazali wafat tahun 1111 Masehi karena pemikirannya dituangkan dalam bentuk buku melahirkan ratusan karya yang sangat populer sampai hari ini terus dibaca dan diskusikan di pesantren-pesantren atau berbagai pertemuan” Ihya Ulumudin ” .
Tentu bermimpi sepert mereka ingin selalu dikenang sepanjang masa. Meraih impian itu tidaklah gratis butuh perjuangan, kerja keras dibarengi dengan doa.
‘isy kariman au mut syahidan ( Hiduplah secara mulia atau mati dalam keadaan syahid ) (***)