PAREPARE, timeberita.com — Program Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang, Kota Parepare berupa pengecatan rumah warga khususnya di kawasan Menara dan Pusri dinilai pelaksanaannya kacau.
Semula diharapkan program pengecatan itu membuat warga senang, justru membuat kesal dan jengkel.
Masalahnya, kata Syaifullah, salah seorang tokoh masyarakat di kawasan Menara, rumah-rumah warga yang dicat jadi belang-belang dan bahkan tidak rampung pengecatannya.
Malah ada rumah ketidakbagian pengecatan padahal rumah itu terletak di pinggir jalan.
Sementara ada rumah yang terletak di lorong, justru diistimewakan untuk dicat.
Senada yang disampaikan Andi Muhammad Yusri bersama isterinya, juga tidak suka rumahnya dicat.
Sebab tidak sesuai yang diharapkan dan cat pagarnya belang-belang.
Ketika dia minta mencat rumahnya sendiri, justru pihak pengelola KSM menolak.
“Karena ternyata, ada biaya pengecatan dressed Rp 45 ribu perhari,” ujarnya ketika melakukan pertemuan kecil dengan Ketua RT III, Ny.Atika.
Sementara, Ny.Atika Ketua RT III, juga tidak tahu dan tidak pernah diberitahukan adanya program pengecatan rumah warga.
Nanti dia ketahui, ketika sudah dia lihat dan adanya keluhan warga.
“Sehingga soal tetek-bengeknya program itu saya tidak tahu,” katanya.
Selagi ibu ketua RT itu bincang-bincang dengan warganya, ada warga lain melintas berteriak bahwa dirinya menolak dicat rumahnya.
Begitu pula Uddang, menolak pemberian Cat yang diberikan.
“Saya hanya dikasih tiga kaleng cat karena tidak sesuai kebutuhan dan minta tambahan dikatakan sudah habis,”ujarnya, Minggu (16/01/2022).
Ini yang dipertanyakan Syaifullah, karena hasil rapat bahwa setiap rumah dapat anggaran pengecatan sebesar Rp 2,5 juta dari total anggaran Rp250 juta.
Pihaknya akan mengusutnya, sebab dikhawatirkan adanya penyimpangan anggaran.
Kemudian bersamaan dengan pelaksanaan program pengecatan itu, turun sejumlah mahasiswa arsitek dari Makassar yang melakukan pengecatan rumah warga.
Dia menyebutkan, Program ini dari Dinas PUPR Propinsi Sulsel dengan kerjasama perusahaan Cat Joutun.
“Jangan sampai terjadi tumpang tindih dan Mahasiswa yang dimanfaatkan untuk mengecat sementara program KSM tidak dijalankan sebagaimana mestinya,” kata Syaifullah.(Dir)