PAREPARE, timeberita.com – Pernyataan kontroversial mencuat dari Kuasa Hukum Pemerintah Kota (Pemkot) Parepare, Guntur Paroki, terkait raihan penghargaan Adipura di masa kepemimpinan sebelumnya. Guntur menyebut bahwa penghargaan bergengsi di bidang kebersihan dan lingkungan hidup tersebut didapatkan melalui proses lobi, bukan semata-mata hasil kerja keras daerah.

Pernyataan ini terekam dalam sebuah video berdurasi 2 menit 55 detik yang diunggah oleh akun Facebook Rizaldi Ariansyah dan langsung memicu perdebatan sengit di kalangan warganet.
Dalam video tersebut, Guntur Paroki yang juga seorang konten kreator mengakui kinerja pemerintah sekarang dalam meraih Adipura. Namun, ia secara terang-terangan meremehkan pencapaian periode sebelumnya. Baik era kepemimpinan, H.M Zain Katoe maupun Taufan Pawe, semuanya disebut sebagai hasil “lobi-lobi” semata.
Pemilik akun Rizaldi menyoroti pengulangan kata “lobi” oleh Guntur yang dinilai menciptakan narasi kontras di mata publik dan berpotensi menjadi polemik berkepanjangan.
Tokoh Politik dan Warganet Bereaksi
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari sejumlah tokoh, salah satunya mantan Wakil Ketua DPRD Parepare, M. Rahmat Sjamsu Alam. Melalui kolom komentar di akun Rizaldi, politisi Partai Demokrat itu menyatakan kekhawatirannya.
“Berbahaya narasinya, bisa merusak citra pemerintah pusat yang puluhan tahun sudah memberikan penghargaan piala Adipura dan juga citra daerah bahwa piala Adipura yang diraihnya bukan hasil perjuangan dan kerja keras daerah,” tulisnya.
Warganet pun ramai-ramai memberikan komentar, terbelah menjadi dua kubu. Sebagian besar mengkritik habis pernyataan Guntur, sementara lainnya mendukung kebebasan berpendapat.
Akun Klinik Pusaka Aria berkomentar sinis, “Ohhhh jadi untuk mendapatkan Adipura itu bisa dengan cara di-lobi yachhhhh… Parepare dapat Adipura berkali-kali hasil lobi-lobi…..???🤭🤭”
Senada dengan itu, akun Arhun Ymac menantang, “Apa yang di bilang lobi-lobi sedikit… diperjelas dan bisa dibuktikan… Sekarang butuh bukti, tidak asal ngomong omong… tabe…”
Kritik tajam juga datang dari akun Dinn Mar yang membandingkan Parepare dengan kota lain. “Jangan bandingkan Balikpapan dengan Parepare. Balikpapan sangat bersih, penataan kota sangat bagus. Jika dibandingkan Parepare tidak ada apa-apanya. Anda sebagai kuasa hukumnya kota Parepare jaga lisanmu, kayak tidak pernah sekolah aja.”
Namun, ada juga warganet yang mencoba meluruskan narasi. Akun Andi Nurfaida berkomentar, “Cocok mi tauwa, bagaimana bisa tidak ada lobi? Pasti hasil lobi agar tim penilai bisa masuk ke Parepare. Edede, negatif pikiranmu om😃”
Di sisi lain, akun Budianto justru melihat sisi positif dari kemampuan lobi tersebut. “Itulah kelebihannya, pintar melobi. Banyak pembangunan di Parepare, masyarakat bisa menikmati, bahkan orang dari luar saja salut dengan kemajuan Parepare.”
Tak ketinggalan, akun Ishak Mamta memberikan dukungan penuh kepada Guntur Paroki. “Lanjutkan kanda, sudah betul cara ta. Dan kebebasan berpendapat jangan mau dibungkam,” tulisnya.
Polemik yang Belum Usai
Hingga berita ini diturunkan, pernyataan Guntur Paroki masih menjadi perbincangan hangat. Polemik ini membuka dua sisi mata uang: antara kebebasan berpendapat dan tanggung jawab akan narasi publik. Yang jelas, pernyataan “Adipura hasil lobi” ini telah mencederai sebagian masyarakat Parepare yang menganggap penghargaan tersebut adalah buah dari kerja kolektif menjaga kebersihan kota, terlepas dari siapa pun pemimpinnya.
Publik kini menanti klarifikasi lebih lanjut dari pihak terkait, termasuk Guntur Paroki sendiri, untuk menjelaskan maksud dari pernyataannya yang menuai kontroversi tersebut. (**)
Catatan
Berikut adalah detail wali kota Parepare yang meraih penghargaan Adipura:
1. HM Zain Katoe (2003–2013): Memulai torehan penghargaan Adipura untuk Kota Parepare sejak tahun 2005.
2. Taufan Pawe (2013–2023): Mempersembahkan 5 Piala Adipura selama masa jabatannya, yaitu pada tahun 2015, 2016, 2018, 2019, dan 2022. (**)