Diksar IAIN Parepare Tinggalkan Duka Mendalam Orang Tua Asmira

PAREPARE, timeberita.com — Senyum manis di wajah polos dan canda tawa tak lagi terlihat di wajah almarhumah Asmira (korban meninggal Mahasiswa IAIN) pada Diksar KSR PMI IAIN Parepare beberapa hari yang lalu.

Saat mendatangi rumah duka di Kompleks perumahan Jalan Beringin, Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat, masih terlihat kain warna putih yang menggantung di depan rumah, Kamis (02/12/2021).

Rumah yang sederhana tempat almarhumah disemayamkan menjadi saksi bisu akan kepergiannya.

Tangis pilu dan duka mendalam masih dirasakan oleh kedua orang tua Asmira.

Asmira anak bungsu dari empat bersaudara itu menjadi harapan bagi keluarga Riswan Abdullah (53) dan Israwati (43).

Asmira yang ditunggu oleh sang Ibu, usai merapikan tempat tidurnya ternyata yang datang hanyalah mayat.

Berbagai pesan singkat dan tanda-tanda akan kepergiannya masih tersimpan rapi di Handphone miliknya.

Statusnya dituliskan untuk sang ibu tercinta ‘Kata Ibu, Jadilah kuat tapi jangan kasar. Anak terakhir haruslah kuat dan tetap semangat’

Satu permintaan almarhumah yang belum kesampaian, yakni mengajak ibu bersama keluarga untuk menunaikan salat taraweh bersama Ramadan akan datang.

Israwati, ibu almarhumah mengatakan, berbagai tanda-tanda yang dia (Almarhum) berikan, tapi itu tidak kami pahami.

Dia menceritakan, Setiap kali anaknya hendak berangkat ke Kampus, Ibulah yang selalu menyisir rambutnya. Tapi hari itu Asmira sendiri yang menyisir rambutnya dan berkata ‘Terakhir mi ini ibu, Jangan mi ibu yang sisir’.

Dan saat makan, sebelum-sebelumnya sangat susah makan banyak. Hari itu, almarhumah makan banyak bahkan tambah sampai tiga kali sembari berkata ‘Barusan enak saya rasa masakan ta ma’.

Tidak hanya itu, saat berangkat ke Kampus almarhumah berkata ‘Mama berangkat ma, Pamit ma. Dan hari itu mengenakan baju hitam jilbab hitam dan berkata, tidak apa-apa ji, terakhir mi ini’.

“Saya sangat sedih, selama kegiatannya, saya rapikan tempat tidurnya dan berharap kalau sudah pulang bisa tidur. Ternyata dia tidur untuk selamanya,”kenang ibunya dengan air mata menetes membasahi wajahnya.

Sang Ayah pun terlihat jelas meneteskan air mata saat sang ibu, mengenan anaknya.

Riswan, Ayah Asmira menuturkan, Jika dirinya hanya sebagai pekerja serabutan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan anaknya (almarhumah).

Dia mengaku, jika penghasilannya jauh dari kata cukup untuk biaya sehari-harinya.

Bahkan dirinya rela mengutang demi melunasi biaya kuliah almarhumah.

Di matanya, Asmira adalah anak yang berbakti kepada orang tua. Lincah dan membantu ibunya selesaikan pekerjaan rumah.

Almarhumah selalu berkata, jika aku sudah sukses nantinya, ‘Saya akan perbaiki rumah ta.Sabar ayah, Saya akan memperbaiki ekonomi keluarga kita’.

“Almarhumah anak yang patuh, kadang kami hanya makan nasi garam saja, tapi beliau tetap sabar dia anak yang baik, “kenangnya sembari menghapus air matanya.

Ucapan disampaikan almarhumah yang dikemas dalam konten vidio pendek pada hari ayah.

Almarhumah buat pesan kepada ayahnya. ‘Yah Tuhan, Jaga kedua orang tuaku aku mau mereka masih ada saat sudah sukses’.

Tangis pilu kedua orangtua almarhumah dan rasa sesak masih terus menyelimuti ke sahariannya mengenang kepergian almarhumah.(*)

Sudarmono

I am a web developer who is working as a freelancer. I am living in Saigon, a crowded city of Vietnam. I am promoting forĀ http://sneeit.com